Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo mengklaim dirinya sebagai orang Muhammadiyah dan tak bisa dipisahkan dengan Ormas yang memiliki pengaruh besar di Indonesia itu. Syahrul mengaku, selama ini dia dibesarkan dalam lingkup keluarga Muhammadiyah. “Di manapun saya katakan, saya ini orang Muhammadiyah. Saya dibesarkan oleh ayah yang Muhammadiyah dan Ibu yang Aisyiah,”ujar mantan Bupati Gowa itu saat menghadiri pencanangan master plan Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Sulsel, kemarin.
Dia mengatakan, pengakuan itu bukan karena kepentingan dirinya kembali bertarung di Pilgub yang akan dihelat pada 22 Januari 2013, melainkan karena kewajibannya sebagai orang yang dibesarkan dari lingkungan Muhammdiayah. “Pengakuan saya ini jangan dikait-kaitkan dengan Pilgub.
Orang Muhammadiyah mau memilih saya atau tidak,bukan persoalan bagi saya. Jabatan bukan segalanya,” tutur Syahrul. Menurutnya,kalah menang dalam Pilgub hanya dinamika hidup dan takdir Tuhan. Sebagai wujud kedekatannya dengan Muhammadiyah, Syahrul pun memberikan bantuan pembangunan dua buah ruangan laboratorium yang dilengkapi dengan fasilitas komputer. “Sekali lagi, ini tidak ada kaitannya dengan Pilgub. Saya hanya ingin melihat pesantren ini lebih baik lagi dan lebih berkualitas,” katanya. Pengakuan Syahrul diamini Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah KH A Fattah Wibisono.
Dia menegaskan, Syahrul Yasin Limpo adalah seorang Muhammadiyah sejati, sehingga tidak bisa dipisakan antara keduanya. “Setiap kali pak Gubernur menghadiri acara Muhammadiyah, seperti datang ke rumah sendiri. Ayah pak Syahrul, pak Yasin Limpo adalah tokoh Muhammadiyah,” kata Fattah. Terkait bantuan dari Syahrul, Fattah meminta warga Muhammadiyah agar tidak mengh u - bungkannya dengan Pilgub. Menurutnya, sebagai bagian dari Muhammadiyah, Syahrul sudah selayaknya memberikan bantuan untuk kebesaran organiasi.
READ MORE ->
Syahrul Yasin Limpo Orang Muhammadiyah
Dia mengatakan, pengakuan itu bukan karena kepentingan dirinya kembali bertarung di Pilgub yang akan dihelat pada 22 Januari 2013, melainkan karena kewajibannya sebagai orang yang dibesarkan dari lingkungan Muhammdiayah. “Pengakuan saya ini jangan dikait-kaitkan dengan Pilgub.
Orang Muhammadiyah mau memilih saya atau tidak,bukan persoalan bagi saya. Jabatan bukan segalanya,” tutur Syahrul. Menurutnya,kalah menang dalam Pilgub hanya dinamika hidup dan takdir Tuhan. Sebagai wujud kedekatannya dengan Muhammadiyah, Syahrul pun memberikan bantuan pembangunan dua buah ruangan laboratorium yang dilengkapi dengan fasilitas komputer. “Sekali lagi, ini tidak ada kaitannya dengan Pilgub. Saya hanya ingin melihat pesantren ini lebih baik lagi dan lebih berkualitas,” katanya. Pengakuan Syahrul diamini Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah KH A Fattah Wibisono.
Dia menegaskan, Syahrul Yasin Limpo adalah seorang Muhammadiyah sejati, sehingga tidak bisa dipisakan antara keduanya. “Setiap kali pak Gubernur menghadiri acara Muhammadiyah, seperti datang ke rumah sendiri. Ayah pak Syahrul, pak Yasin Limpo adalah tokoh Muhammadiyah,” kata Fattah. Terkait bantuan dari Syahrul, Fattah meminta warga Muhammadiyah agar tidak mengh u - bungkannya dengan Pilgub. Menurutnya, sebagai bagian dari Muhammadiyah, Syahrul sudah selayaknya memberikan bantuan untuk kebesaran organiasi.